Sabtu, 29 Desember 2012

Kamis, 03 Februari 2011

Bahasa Daerah Jawa

Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa terutama di beberapa bagian Banten terutama kota Serang, kabupaten Serang, kota Cilegon dan kabupaten Tangerang, Jawa Barat khususnya kawasan Pantai utara terbentang dari pesisir utara Karawang, Subang, Indramayu, kota Cirebon dan kabupaten Cirebon, Yogyakarta, Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Penyebaran Bahasa Jawa

Penduduk Jawa yang berpindah ke Malaysia turut membawa bahasa dan kebudayaan Jawa ke Malaysia, sehingga terdapat kawasan pemukiman mereka yang dikenal dengan nama kampung Jawa, padang Jawa. Di samping itu, masyarakat pengguna Bahasa Jawa juga tersebar di berbagai wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kawasan-kawasan luar Jawa yang didominasi etnis Jawa atau dalam persentase yang cukup signifikan adalah : Lampung (61,9%), Sumatra Utara (32,6%), Jambi (27,6%), Sumatera Selatan (27%). Khusus masyarakat Jawa di Sumatra Utara, mereka merupakan keturunan para kuli kontrak yang dipekerjakan di berbagai wilayah perkebunan tembakau, khususnya di wilayah Deli sehingga kerap disebut sebagai Jawa Deli atau Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Sedangkan masyarakat Jawa di daerah lain disebarkan melalui program transmigrasi yang diselenggarakan semenjak zaman penjajahan Belanda.

Selain di kawasan Nusantara, masyarakat Jawa juga ditemukan dalam jumlah besar di Suriname, yang mencapai 15% dari penduduk secara keseluruhan, kemudian di Kaledonia Baru bahkan sampai kawasan Aruba dan Curacao serta Belanda. Sebagian kecil bahkan menyebar ke wilayah Guyana Perancis dan Venezuela. Pengiriman tenaga kerja ke Korea, Hong Kong, serta beberapa negara Timur Tengah juga memperluas wilayah sebar pengguna bahasa ini meskipun belum bisa dipastikan kelestariannya.

[sunting] Fonologi

Dialek baku bahasa Jawa, yaitu yang didasarkan pada dialek Jawa Tengah, terutama dari sekitar kota Surakarta dan Yogyakarta memiliki fonem-fonem berikut:

Vokal:

Depan Tengah Belakang
i
u
e ə o
(ɛ)
(ɔ)

a

Konsonan:


Labial Dental Alveolar Retrofleks Palatal Velar Glotal
Letupan p b t d
ʈ ɖ k g ʔ
Frikatif

s (ʂ)

h
Likuida & semivokal w l r
j

Sengau m n
(ɳ) ɲ ŋ

Perhatian: Fonem-fonem antara tanda kurung merupakan alofon. Catatan pembaca pakar bahasa Jawa: Dalam bahasa Jawa [a],[ɔ], dan [o] itu membedakan makna [baba?] 'luka'; [bɔbɔ?]'param' atau 'lobang', sikile di-bɔbɔ?i 'kakinya diberi param', lawange dibɔbɔ?i 'pintunya dilubangi'; dan [bobo?] 'tidur'. [warɔ?] 'rakus' sedang [wara?] 'badak'; [lɔr] 'utara' sedangkan [lar] 'sayap', [gəɖɔŋ?] 'gedung' sedangkan [gəɖaŋ?] 'pisang; [cɔrɔ]'cara' sedang [coro] 'kecoak', [lɔrɔ]'sakit' sedang [loro] 'dua', dan [pɔlɔ] 'pala/rempah-rempah' sedang [polo] 'otak'. Dengan demikian, bunyi [ɔ] itu bukan alofon [a] ataupun alofon [o] melainkan fonem tersendiri.

Sugengrawuh atau "Selamat datang" yang ditulis menggunakan aksara Jawa

[sunting] Penjelasan Vokal:

Tekanan kata (stress) direalisasikan pada suku kata kedua dari belakang, kecuali apabila sukukata memiliki sebuah pepet sebagai vokal. Pada kasus seperti ini, tekanan kata jatuh pada sukukata terakhir, meskipun sukukata terakhir juga memuat pepet. Apabila sebuah kata sudah diimbuhi dengan afiks, tekanan kata tetap mengikuti tekanan kata kata dasar. Contoh: /jaran/ (kuda) dilafazkan sebagai [j'aran] dan /pajaranan/ (tempat kuda) dilafazkan sebagai [paj'aranan].

Semua vokal kecuali /ə/, memiliki alofon. Fonem /a/ pada posisi tertutup dilafazkan sebagai [a], namun pada posisi terbuka sebagai [ɔ]. Contoh: /lara/ (sakit) dilafazkan sebagai [l'ɔrɔ], tetapi /larane/ (sakitnya) dilafazkan sebagai [l'arane]

Fonem /i/ pada posisi terbuka dilafazkan sebagai [i] namun pada posisi tertutup lafaznya kurang lebih mirip [e]. Contoh: /panci/ dilafazkan sebagai [p'aɲci] , tetapi /kancil/ kurang lebih dilafazkan sebagai [k'aɲcel].

Fonem /u/ pada posisi terbuka dilafazkan sebagai [u] namun pada posisi tertutup lafaznya kurang lebih mirip [o]. Contoh: /wulu/ (bulu) dilafazkan sebagai [w'ulu] , tetapi /ʈuyul/ (tuyul) kurang lebih dilafazkan sebagai [ʈ'uyol].

Fonem /e/ pada posisi terbuka dilafazkan sebagai [e] namun pada posisi tertutup sebagai [ɛ]. Contoh: /lele/ dilafazkan sebagai [l'ele] , tetapi /bebek/ dilafazkan sebagai [b'ɛbɛʔ].

Fonem /o/ pada posisi terbuka dilafazkan sebagai [o] namun pada posisi tertutup sebagai [ɔ]. Contoh: /loro/ dilafazkan sebagai [l'oro] , tetapi /boloŋ/ dilafazkan sebagai [b'ɔlɔŋ].

[sunting] Penjelasan Konsonan:

Fonem /k/ memiliki sebuah alofon. Pada posisi terakhir, dilafazkan sebagai [ʔ]. Sedangkan pada posisi tengah dan awal tetap sebagai [k].

Fonem /n/ memiliki dua alofon. Pada posisi awal atau tengah apabila berada di depan fonem eksplosiva palatal atau retrofleks, maka fonem sengau ini akan berubah sesuai menjadi fonem homorgan. Kemudian apabila fonem /n/ mengikuti sebuah /r/, maka akan menjadi [ɳ] (fonem sengau retrofleks). Contoh: /panjaŋ/ dilafazkan sebagai [p'aɲjaŋ], lalu /anɖap/ dilafazkan sebagai [ʔ'aɳɖap]. Kata /warna/ dilafazkan sebagai [w'arɳɔ].

Fonem /s/ memiliki satu alofon. Apabila /s/ mengikuti fonem /r/ atau berada di depan fonem eksplosiva retrofleks, maka akan direalisasikan sebagai [ʂ]. Contoh: /warsa/ dilafazkan sebagai [w'arʂɔ], lalu /esʈi/ dilafazkan sebagai [ʔ'eʂʈi].

[sunting] Fonotaktik

Dalam bahasa Jawa baku, sebuah sukukata bisa memiliki bentuk seperti berikut: (n)-K1-(l)-V-K2.

Artinya ialah Sebagai berikut:

  • (n) adalah fonem sengau homorgan.
  • K1 adalah konsonan eksplosiva ata likuida.
  • (l) adalah likuida yaitu /r/ atau /l/, namun hanya bisa muncul kalau K1 berbentuk eksplosiva.
  • V adalah semua vokal. Tetapi apabila K2 tidak ada maka fonem /ə/ tidak bisa berada pada posisi ini.
  • K2 adalah semua konsonan kecuali eksplosiva palatal dan retrofleks; /c/, /j/, /ʈ/, dan /ɖ/.

Contoh:

  • a
  • an
  • pan
  • prang
  • njlen

[sunting] Tata Bahasa

Tata Bahasa Jawa

[sunting] Variasi dalam bahasa Jawa

Klasifikasi berdasarkan dialek geografi mengacu kepada pendapat E.M. Uhlenbeck (1964) [1]. Peneliti lain seperti W.J.S. Poerwadarminta dan Hatley memiliki pendapat yang berbeda.[rujukan?]

Kelompok Barat
  1. dialek Banten
  2. dialek Cirebon
  3. dialek Tegal
  4. dialek Banyumasan
  5. dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas)

Tiga dialek terakhir biasa disebut Dialek Banyumasan.

Kelompok Tengah
  1. dialek Pekalongan
  2. dialek Kedu
  3. dialek Bagelen
  4. dialek Semarang
  5. dialek Pantai Utara Timur (Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati)
  6. dialek Blora
  7. dialek Surakarta
  8. dialek Yogyakarta
  9. dialek Madiun

Kelompok kedua ini dikenal sebagai bahasa Jawa Tengahan atau Mataraman. Dialek Surakarta dan Yogyakarta menjadi acuan baku bagi pemakaian resmi bahasa Jawa (bahasa Jawa Baku).

Kelompok Timur
  1. dialek Pantura Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro)
  2. dialek Surabaya
  3. dialek Malang
  4. dialek Jombang
  5. dialek Tengger
  6. dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing)

Kelompok ketiga ini dikenal sebagai bahasa Jawa Wetanan (Timur).

[sunting] Register (undhak-undhuk basa)

Bahasa Jawa mengenal undhak-undhuk basa dan menjadi bagian integral dalam tata krama (etiket) masyarakat Jawa dalam berbahasa. Dialek Surakarta biasanya menjadi rujukan dalam hal ini. Bahasa Jawa bukan satu-satunya bahasa yang mengenal hal ini karena beberapa bahasa Austronesia lain dan bahasa-bahasa Asia Timur seperti bahasa Korea dan bahasa Jepang juga mengenal hal semacam ini. Dalam sosiolinguistik, undhak-undhuk merupakan salah satu bentuk register.

Terdapat tiga bentuk utama variasi, yaitu ngoko ("kasar"), madya ("biasa"), dan krama ("halus"). Di antara masing-masing bentuk ini terdapat bentuk "penghormatan" (ngajengake, honorific) dan "perendahan" (ngasorake, humilific). Seseorang dapat berubah-ubah registernya pada suatu saat tergantung status yang bersangkutan dan lawan bicara. Status bisa ditentukan oleh usia, posisi sosial, atau hal-hal lain. Seorang anak yang bercakap-cakap dengan sebayanya akan berbicara dengan varian ngoko, namun ketika bercakap dengan orang tuanya akan menggunakan krama andhap dan krama inggil. Sistem semacam ini terutama dipakai di Surakarta, Yogyakarta, dan Madiun. Dialek lainnya cenderung kurang memegang erat tata-tertib berbahasa semacam ini.

Sebagai tambahan, terdapat bentuk bagongan dan kedhaton, yang keduanya hanya dipakai sebagai bahasa pengantar di lingkungan keraton. Dengan demikian, dikenal bentuk-bentuk ngoko lugu, ngoko andhap, madhya, madhyantara, krama, krama inggil, bagongan, kedhaton.

Di bawah ini disajikan contoh sebuah kalimat dalam beberapa gaya bahasa yang berbeda-beda ini.

  1. Ngoko kasar: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
  2. Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
  3. Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?” (ini dianggap salah oleh sebagian besar penutur bahasa Jawa karena menggunakan leksikon krama inggil untuk diri sendiri)
  4. Madya: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?” (ini krama desa (substandar))
  5. Madya alus: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?” (ini juga termasuk krama desa (krama substandar))
  6. Krama andhap: “Nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?” (dalem itu sebenarnya pronomina persona kedua, kagungan dalem 'kepunyaanmu'. Jadi ini termasuk tuturan krama yang salah alias krama desa)
  7. Krama lugu: “Nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
  8. Krama alus “Nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”

*nèng adalah bentuk percakapan sehari-hari dan merupakan kependekan dari bentuk baku ana ing yang disingkat menjadi (a)nêng.

Dengan memakai kata-kata yang berbeda dalam sebuah kalimat yang secara tatabahasa berarti sama, seseorang bisa mengungkapkan status sosialnya terhadap lawan bicaranya dan juga terhadap yang dibicarakan. Walaupun demikian, tidak semua penutur bahasa Jawa mengenal semuanya register itu. Biasanya mereka hanya mengenal ngoko dan sejenis madya.

[sunting] Bilangan dalam bahasa Jawa

Bila dibandingkan dengan bahasa Melayu atau Indonesia, bahasa Jawa memiliki sistem bilangan yang agak rumit.

Bahasa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Kuna sa rwa telu pat lima enem pitu walu sanga sapuluh
Kawi eka dwi tri catur panca sad sapta asta nawa dasa
Krama setunggal kalih tiga sekawan gangsal enem pitu wolu sanga sedasa
Ngoko siji loro telu papat lima enem pitu wolu sanga sepuluh
Angka Ngoko Krama
11 sewelas setunggal welas (sewelas)
12 rolas kalih welas
13 telulas tiga welas
14 patbelas sekawan welas
15 limalas gangsal welas
16 nembelas enem welas
17 pitulas pitulas
18 wolulas wolulas
19 sangalas sangalas
20 rong puluh kalih dasa
21 selikur selikur/kalih dasa setunggal
22 rolikur kalih likur
23 telulikur tigang likur
24 patlikur sekawan likur
25 selawé selangkung
26 nemlikur nemlikur
30 telung puluh tigang dasa
31 telung puluh siji tigang dasa setunggal
32 telung puluh loro tigang dasa kalih
40 patang puluh sekawan dasa
41 patang puluh siji sekawan dasa setunggal
42 patang puluh loro sekawan dasa kalih
50 sèket sèket
51 sèket siji sèket setunggal
52 sèket loro sèket kalih
60 swidak swidak
61 swidak siji swidak setunggal
62 swidak loro swidak kalih
70 pitung puluh pitu dasa
80 wolung puluh wolu dasa
90 sangang puluh sanga dasa
100 satus setunggal atus
101 satus siji setunggal atus setunggal
102 satus loro setunggal atus kalih
120 satus rong puluh setunggal atus kalih dasa
121 satus selikur setunggal atus kalih dasa setunggal
200 rong atus kalih atus
500 limang atus gangsal atus
1.000 sèwu setunggal èwu
1.001 sèwu siji setunggal èwu setunggal
1.002 sèwu loro setunggal èwu kalih
1.500 sèwu limang atus setunggal èwu gangsal atus
1.520 sèwu limang atus rong puluh setunggal èwu gangsal atus kalih dasa
1.550 sèwu limang atus sèket setunggal èwu gangsal atus sèket
1.551 sèwu limang atus sèket siji setunggal èwu gangsal atus sèket setunggal
2.000 rong èwu kalih èwu
5.000 limang èwu gangsal èwu
10.000 sepuluh èwu sedasa èwu
100.000 satus èwu setunggal atus èwu
500.000 limang atus èwu gangsal atus èwu
1.000.000 sayuta setunggal yuta
1.562.155 sayuta limang atus swidak loro èwu satus sèket lima setunggal yuta gangsal atus swidak kalih èwu setunggal atus sèket gangsal


sumber : http://id.wikipedia.org

Bahasa Darah Bali

Bahasa Bali yang sekarang sebenarnya adalah merupakan bahasa campuran di antara Bahasa Bali-Kuna dengan Bahasa Jawa-Kuna, Sanskerta, Belanda, Inggris, Tionghoa, Arab, Portugis, Tamil dan bahasa-bahasa asing lainnya. Yang banyak di antaranya mempengaruhi ialah Bahasa Jawa Kuna dan Sanskerta. Dengan mengingat banyaknya kata-kata atau istilah-istilah yang diambil untuk memperkaya Bahasa Indonesia, maka secara langsung maupun tidak langsung Bahasa Bali juga turut menyumbangkan istilah-istilah terhadap bahasa kesatuan kita, yaitu Bahasa Indonesia. Lebih lanjut kalau kita ingin mengetahui fungsi Bahasa Daerah Bali, jelas kita lihat pada rencana Pendidikan (kurikulum) Bahasa Bali, hasil kerja panitia Penyusun Kurikulum tanggal 9 s/d 12 Desember 1970 di Bedugul, yang di antaranya dinyatakan, bahwa:

Bahasa Bali adalah bahasa ibu sebagai media untuk membentuk manusia Pancasila.
Bahasa Bali adalah sebagai bahasa pengantar dalam pergaulan masyarakat Bali.
Bahasa Bali sebagai pendukung agama dan kebudayaan daerah Bali.
Bahasa Bali sebagai salah satu Bahasa Daerah yang memberikan pupuk pembinaan yang penting bagi kemajuan Bahasa Indonesia.

Dengan demikian jelaslah, bahwa Bahasa Daerah Bali masih perlu dibina, dipupuk dan dikembangkan, lebih-lebih kalau mengingat jumlah lontar-lontar yang kita warisi cukup bermutu tinggi baik berupa puisi maupun prosa. Oleh karena itulah Pemerintah Daerah Bali masih tetap berusaha ,untuk membina terus perkembangan Bahasa Bali, dengan harapan sekurang-kurangnya kita masih dapat menyelami isi lontar-lontar yang telah ada.


sumber : http://www.babadbali.com/aksarabali/books/ppebb/pp-set.htm

746 jumlah bahasa daerah Indonesia

lebih dari 746 jumlah bahasa daerah Indonesia

Pusat Bahasa Depdiknas akan menerbitkan peta bahasa yang terdiri atas kumpulan bahasa daerah di Tanah Air dari Sabang, Pulau We sampai Merauke, Papua.

“Penyusunan peta bahasa ini sudah berlangsung selama 15 tahun karena proses pengumpulan data bahasa ibu dari satu daerah ke daerah lain mengalami kendala geografis,” kata Kepala Pusat Bahasa Depdiknas, Dr Dendy Sugondo di Jakarta, Rabu (22/10) sehubungan penyelenggaraan Kongres Bahasa Indonesia IX di Jakarta, pada 28 Oktober- 1 November 2008.

Penelitian tentang bahasa daerah atau bahasa ibu bertujuan untuk memetakan bahasa sebagai budaya dan sarana mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia mengatakan, bangsa Indonesia memiliki lebih dari 746 bahasa daerah dan 17.508 pulau. “Melalui bahasa kita bisa membuat peta budaya dan wilayah NKRI. Ini suatu senjata paling kuat, yaitu peta budaya, bukan hanya peta wilayah,” katanya.

Pemetaan bahasa telah mencapai kawasan timur yakni di Provinsi Papua dan Maluku. Dendy mengharapkan, pada 28 Oktober nanti meski Peta Bahasa tersebut belum sepenuhnya sempurna -karena bahasa ibu di Papua belum masuk- tetap akan dipamerkan pada acara Kongres Bahasa nanti.

Untuk melakukan pemetaan bahasa tersebut, Depdiknas menerjunkan tim pemetaan bahasa yang disebar di seluruh Indonesia. Mereka ditempatkan di balai bahasa setiap provinsi di Indonesia.

Dendy mengatakan, selama penelitian diperoleh data terdapat enam bahasa daerah yang sudah punah. Bahasa-bahasa tersebut berada di daerah Nusa Tenggara Timur, Papua, dan wilayah Maluku.

“Kebanyakan, bahasa daerah, terutama yang kecil-kecil komunitasnya, turun temurun secara lisan. Akibatnya, setelah penutur aslinya tidak ada, bahasa tersebut hilang,” tambahnya.

Sementara tidak semua daerah memiliki dokumentasi secara tertulis, katanya. Selain itu, lanjut Dendy, terdapat juga beberapa bahasa daerah yang terancam punah. Bahasa-bahasa tersebut terutama yang memiliki penutur di bawah 100 orang.

Sumber: kompas.com

Bahasa Sunda

Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari beragam suku, budaya, dan bahasa. Selain bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa daerah merupakan khasanah kekayaan yang sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan agar terhindar dari jamahan asing yang mampu menghapus jejak budaya kita.

Salah satu suku terbesar di Indonesia adalah Suku Sunda. Suku Sunda memiliki bahasa daerahnya sendiri yang disebut bahasa Sunda. Secara geografis, suku Sunda terletak di Pulau Jawa bagian barat. Dengan kata lain, Suku Sunda terletak di Jawa Barat.

Bahasa Sunda adalah bahasa daerah di Indonesia yang dituturkan oleh lebih kurang 27 juta jiwa dan merupakan bahasa dengan penutur terbanyak kedua setelah bahasa Jawa.

Dalam bahasa Sunda, ada yang dikenal dengan nama bahasa Sunda Kuna. Bahasa Sunda Kuna biasanya tertulis pada benda-benda peninggalan sejarah, seperti tulisan-tulisan di batu yang disebut prasasti maupun naskah-naskah yang ditulis pada daun lontar.

Bahasa Sunda dengan dialek khasnya menambah bahan kajian para peneliti bahasa karena bahasa Sunda dianggap sebagai bahasa daerah yang sulit. Berbeda dengan bahasa Indonesia, bahasa Sunda memiliki beberapa tingkatan berdasarkan tingkat kesopanannya, di antaranya sebagai berikut.

Bahasa Sunda lemes, yaitu bahasa Sunda halus yang digunakan untuk orang yang usianya di atas kita. Bahasa Sunda halus ini memiliki nilai kesopanan yang sangat tinggi. Biasanya digunakan untuk berbicara dengan orang tua, guru, dan orang yang kita hormati. Contoh: "tuang" yang berarti makan.

Bahasa Sunda loma, yaitu bahasa Sunda setengah halus atau sedang-sedang saja. Bahasa Sunda loma ini biasanya digunakan pada orang yang usianya sepantaran. Misal untuk mengobrol dengan teman biasanya menggunakan bahasa Sunda loma. Contoh: "dahar" yang berarti makan.

Bahasa Sunda kasar, yaitu bahasa Sunda yang paling kasar. Bahasa Sunda kasar ini sering digunakan seseorang ketika sedang marah. Bahasa Sunda kasar juga digunakan oleh orang-orang yang tingkat pendidikannya kurang sehingga tidak tahu tata krama. Contoh: "madang, lalatuk, jajablog, lolodok," yang berarti makan.

Saat ini, bahasa Sunda ditulis dengan abjad latin. Bahasa Sunda memiliki lima huruf vokal murni, yaitu a, i, u, é, o, serta dua vokal netral yaitu, e pepet dan eu. Konsonan bahasa Sunda terdiri dari 18 fonem, yaitu p, b, t, d, k, g, c, j, h, ng, ny, m, n, s, w, l, r, dan y.

Kesulitan para pendatang berbicara bahasa Sunda adalah ketika melafalkan suara eu. Misalnya, untuk mengucapkan "Cicaheum", para pendatang sering mengucapkan eu dengan e pepet sehingga bunyinya menjadi "Cicahem", tanpa "u"

Bahasa Sunda merupakan bahasa yang unik dengan tingkatan-tingkatan berbahasa, atau lebih dikenal dengan istilah undak-usuk yang nyaris tidak dimiliki oleh bahasa lain.

Keunikan lain dalam bahasa Sunda adalah tidak dikenalnya konsonan f. Orang sunda cenderung tidak bisa melafalkan f. Untuk melafalkan maaf dan fitnah (bahasa Indonesia) menjadi maap dan pitnah. Orang Sunda hanya mengenal satu p, yaitu p peuyeum. Tidak ada f maupun v.


sumber : http://www.anneahira.com/

Bahasa Nasional Indonesia

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia[1] dan bahasa persatuan bangsa Indonesia.[2] Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa kerja.

Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu.[3] Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau[4] dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan.[5] Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu.[6] Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya,[7] sehingga dapatlah dikatakan bahwa Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.

Fonologi dan tata bahasa Bahasa Indonesia dianggap relatif mudah.[8] Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu.

Bahasa Daerah di Indonesia

Bahasa Daerah di Indonesia Diurutkan Berdasarkan Wilayah atau Propinsi



Wilayah Bali Menggunakan Bahasa Bali
Wilayah Bali Menggunakan Bahasa Sasak
Wilayah Jawa Menggunakan Bahasa Jawa
Wilayah Jawa Menggunakan Bahasa Madura
Wilayah Jawa Menggunakan Bahasa Sunda
Wilayah Kalimantan Menggunakan Bahasa Bahau
Wilayah Kalimantan Menggunakan Bahasa Bajau
Wilayah Kalimantan Menggunakan Bahasa Banjar
Wilayah Kalimantan Menggunakan Bahasa Iban
Wilayah Kalimantan Menggunakan Bahasa Kayan
Wilayah Kalimantan Menggunakan Bahasa Kenya
Wilayah Kalimantan Menggunakan Bahasa Klemautan
Wilayah Kalimantan Menggunakan Bahasa Melayu
Wilayah Kalimantan Menggunakan Bahasa Milano
Wilayah Kalimantan Menggunakan Bahasa Ot-Danum
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Alor
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Ambelan
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Aru
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Banda
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Belu
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Buru
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Geloli
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Goram
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Helo
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Kadang
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Kai
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Kaisar
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Kroe
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Lain
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Leti
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Pantar
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Roma
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Rote
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Solor
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Tanibar
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Tetun
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Timor
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur Menggunakan Bahasa Wetar
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Halmahera Selatan Menggunakan Bahasa Windesi
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Halmahera Utara Menggunakan Bahasa Ternate
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Halmahera Utara Menggunakan Bahasa Tidore
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Sula Bacan Menggunakan Bahasa Bacan
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Sula Bacan Menggunakan Bahasa Sula
Wilayah Maluku Daerah Sekitar Sula Bacan Menggunakan Bahasa Taliabo
Wilayah Nusa Tenggara Barat Menggunakan Bahasa Sasak
Wilayah Nusa Tenggara Barat Menggunakan Bahasa Sumba
Wilayah Nusa Tenggara Timur Menggunakan Bahasa Sasak
Wilayah Nusa Tenggara Timur Menggunakan Bahasa Sumbawa
Wilayah Nusa Tenggara Timur Menggunakan Bahasa Tetun
Wilayah Nusa Tenggara Timur Menggunakan Bahasa Timor
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku Menggunakan Bahasa Bungkumori
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku Menggunakan Bahasa Laki
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku Menggunakan Bahasa Landawe
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku Menggunakan Bahasa Mapute
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gate Menggunakan Bahasa Buol
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gate Menggunakan Bahasa Gorontalo
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gate Menggunakan Bahasa Kaidipan
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gorontalo Menggunakan Bahasa Bulanga
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan Menggunakan Bahasa Balantak
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan Menggunakan Bahasa Banggai
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan Menggunakan Bahasa Bobongko
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan Menggunakan Bahasa Loinan
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung Menggunakan Bahasa Bonerate
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung Menggunakan Bahasa Butung
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung Menggunakan Bahasa Kalaotoa
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung Menggunakan Bahasa Karompa
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung Menggunakan Bahasa Layolo
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung Menggunakan Bahasa Walio
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel Menggunakan Bahasa Bugis
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel Menggunakan Bahasa Luwu
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel Menggunakan Bahasa Makassar
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel Menggunakan Bahasa Mandar
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel Menggunakan Bahasa Pitu
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel Menggunakan Bahasa Sa'dan
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel Menggunakan Bahasa Salu
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel Menggunakan Bahasa Seko
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel Menggunakan Bahasa Uluna
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut Menggunakan Bahasa Bantik
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut Menggunakan Bahasa Mongondow
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut Menggunakan Bahasa Sangir
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut Menggunakan Bahasa Talaud
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut Menggunakan Bahasa Tambulu
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut Menggunakan Bahasa Tombatu
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut Menggunakan Bahasa Tompakewa
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut Menggunakan Bahasa Tondano
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut Menggunakan Bahasa Tontembun
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Tomoni Menggunakan Bahasa Tomini
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja Menggunakan Bahasa Bada' Besona
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja Menggunakan Bahasa Kail
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja Menggunakan Bahasa Leboni
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja Menggunakan Bahasa Napu
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja Menggunakan Bahasa Pilpikoro
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja Menggunakan Bahasa Toraja
Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja Menggunakan Bahasa Wotu
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Aceh
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Alas
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Angkola
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Batak
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Enggano
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Gayo
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Karo
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Kubu
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Lampung
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Lom
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Mandailing
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Melayu
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Mentawai
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Minangkabau
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Nias
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Orang Laut
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Pak-Pak
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Rejang Lebong
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Riau
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Sikule
Wilayah Sumatera Menggunakan Bahasa Simulur